Ceritaku
Mungkin inilah sepenggal kisah
dalam hidupku yang mengajari aku tentang arti hidup bahwa kehidupan tak
selamanya indah dan juga menuntunku agar lebih kuat dalam menjalani
kehidupanku.
Yah..inilah
kisahku saat aku jauh dari k\eluarga, sanank famili dan juga tanah kelahiranku.
Tekekang jarak ruang dan waktu yang membuat aku begitu merindukan suasana
hidupku yang ytanpa kuduga takkan pernah aku rasakan lagi untuk waktu yand
sangat lama. Rasa rindu itu semakin hari semakin bertambah dan terus memuncak
mengisi setiap anganku untuk kembali pulang. Rasa rindu kepada Abah dan Mama,
adik-adikku dan seluruh keluarga, terlebih lagi kerinduan kepada alam Merapi
yang sdelama ini mengajarkan aku semua akan kehidupan.
Terbayang
olehku betapa indah kampungku, teringat lagi akan suara serangga-serangga malam
ketika hari mulai gelap, ahh…aku kangen sama semua kenyamanan itu. Aku sangat
bersyukur dilahirkan ditempat yang masih sangat murni, jauh dari segala
hiruk-pikuk keramaian kota dan dalam sebuah kehidupan sosial yang masih terjaga
dengan sangat baik. Senyum ramah selalu aku dapatkan setiap kali bertemu dengan
warga sekitarku, entah siapapun itu tak kenal usia apalah lagi status sosial.
Tak ada perbedaan antara kami warga Merapi, kami adalah saudara yang memang
seharusnya sling menghormati dan saling menolong satu sama lain, paling tidak
itulah yang membuat kami nyaman dengan kehidupan sosial dikampung ini.
Hahhh….ingin rasanya berkumpul
bersama keluarga dan kawan-kawan
sepermainanku dulu, termasuk juga kangen berantem ma adik-adikku, hehehee…
disaat jauh dari rumah seperti ini terlintas tentang kebersamaan dengan
kawan-kawan semasa kecil, sepi rasanya hidup tanpa gurauan mereka. Sewaktu
masih dirumah dulu kami sering menghabiskan waktu bersama. Ada saja yang kami
lakukan demi kesenangan bersama, jika waktu dah menjelang senja kami biasa
berkumpul sambil bermain gitar sampai tiba waktu sembahyang. Terkadang sehabis
sembahyang Isya` kami lanjutkan dengan gitaran, memuat api unggun sambil bakar
jagung atau sekedar duduk di posko ronda sekalian jaga keamanan (maklum masih
pada bujang-bujang jadi adanya senen melulu, hehehee..)
Dulu
dikampung kami berdiri sebuah masjid yang cukup besar yaitu Masjid Nurul Hikmah,
meskipun tidak megah tetapi rumah Allah itu begitu kami sayangi dan kami jaga
(alhamdulillah 100% warga kampungku muslim). Di masjid itulah kami para remaja
dan anak-anak menimba ilmu agama baik dari pengajian-pengajian, TPA (Taman
Pendidikan Al Qur`an) maupun dari kegiatan masjid lainnya. Masjid itu didirikan
atas swadaya masyarakat dusun kami dan juga dari donatur-donatur lainnya. Oh
iya, aku juga menjadi mu`adzin di masjid ini, so, jika aku pulang nanti aku punya impian tuk mengumandangkan adzan lagi
dimasjid kami itu. Waaahh…entah bagaimana seperti apa rasanya berjamaah bersama
teman-teman dekat lagi.
Ada berjuta impian dan
keinginanku yang ingin aku lakukan setelah aku pulang nanti, tak sabar aku
ingin merasakan kehidupanku itu.
Sampai
suatu ketika ada peristiwa yang memupuskan impianku itu dan menghancurkan semua
anganku. Tepat 2 bulan sebelum aku pulang, Gunung Merapi meletus dan
memporak-porandakan seisi kampungku. Rumah, ternak, dan bahkan sanak saudara
kami menjadi korban dari letusan itu. Pedih rasanya merasakan semua itu, aku kehilangan banyak saudara….. kakek,
nenek, Oom, Tante dan org-orang yang dekat dengan kehidupanku banyak yang
terkorban. Kini hanya tinggal kenanganku tentang mereka yang tertinggal. Tapi
alhamdulilah Abah, Mama adik-adik dan keluarga intiku selamat dari bencana itu.
Dalam perantauanku terasa sangat berat kenyataan bahwa aku tak bisa bertemu lagi dengan mereka, terasa hancur
hatiku saat aku sadari bahwa kami sudah tak mempunyai tempat tinggal. Kini aku tak bisa lagi bermain dengan salah
seorang sahabat karibku karena dia pun sudah pergi menghadap Tuhannya, dia
takkan pernah menyanyi lagi saat aku memainkan lagu kesukaannya dan tak ada
lagi senyum cerianya yang selalu ia berikan pada setiap orang. Dia adalah
Ngatimin (kami memanggilnya P-Men), sahabatku itu meninggal saat bertugas
menjadi rlawan didusun kami…. Semoga Allah menerima arwahnya disisiNya…Amien
Terlepas dari semua itu, pupus
sudah harapanku untuk menikmati hijau alam kampungku, impianku untuk
mengumandangkan adzan di Masjid Nurul Hikmah pun tinggal sekedar angan. Ya
Allah….begitu berat cobaan yang Engkau berikan… sekarang sekedar tempat
untuk bernaung pun kami tidak punya…
Tetapi
itu semua bukan alasan bagi kami untuk
menyerah pada keadaan, kami bertekad akan bangkit dari keterpurukan ini
meskipun harus dimulai dari nol lagi.
Sekarang
satu tahun setelah erupsi Merapi dan lebih kurang 9 bulan aku pulang dari
perantauan, kampung kami telah mulai bangkit. Kami sudah memiliki tempat
tinggal lagi dan sedang dalam upaya untuk memulihkan keadaan, baik dari segi
ekonomi, sosial dan sarana prasarana tempat tinggal kami. Kami bertekat untuk
tetap tinggal disini dan mempertahankan wilayah kami, karena kami adalah ANAK-ANAK
MERAPI…..


4 komentar
sejuknya angin merapi tenangkan jiwa kami yg sedang resah....
BalasHapushijaunya rumput rumput memberi suara pada gembala kami....
tanah merapi yang subur memberi kami penghidupan....
Tanah Tumpah darah kami.....
Tanah ini Tanah Kami.....
Tanah ini Tanah Penghidupan kami....
Tanah Tumpah Darah kami....
jangan coba coba mengambil dari kami...
jangan Kami paksa kami untuk diam.....
Jangan Paksa kami untuk duduk...
karena kami Pekerja keras....
kami tahu apa yang harus kami lakukan....
kami sangat mengenal wilayah kami....
kami Mengenal simbah Merapi
karena merapi adalah bagian keluarga kami....
perasaan telah memainkan perannya didalam jiwa
BalasHapusperasaan telah memainkan perannya didalam hati
perasaan telah memainkan perannya didalam kata
kibarkan merah-putih-mu...
tumpahkan perasaan pada angan mu
tumpahkan perasaan pada tekad mu
tumpahkan perasaan pada pena mu
I still be right here waiting...
get-up.... for perfections....
good luck.... Sya_If_ul
Abang Panji# kapan mau di rilis ini Kang..hehehe
BalasHapusBang Syai# MERDEKA BANG.....!!
BalasHapus